Sabtu, 07 Maret 2009

ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFLASI DI INDONESIA DALAM JANGKA PENDEK

ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFLASI DI INDONESIA DALAM JANGKA PENDEK

A. Latar Belakang

Memahami betapa besar pengaruh kebijakan moneter terhadap perekonomian, karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Untuk itu didalam suatu tatanan perekonomian suatu Negara perlu dilakukan pengaturan bidang moneter. Pengaturan inilah yang bisa disebut kebijakan moneter (monetary policy). kebijakan moneter pada umumnya bertujuan untuk memelihara kestabilan nilai uang, pengendalian tingkat inflasi dan mendorong kelancaran produksi dan pembangunan guna meningkatkan taraf hidup rakyat. Melihat keterkaitan antara moneter dan sektor riel atau dengan perekonomian secara makro, boleh dikatakan sektor moneter merupakan salah satu bagian penting dari kebijakan ekonomi makro. Kebijakan moneter yang bersinergi dengan kebijakan sektor lain ditujukan untuk mendukung tercapainya target yang ingin dicapai dalam ekonomi makro.
Bank for International Settlements (BIS) menilai bahwa ketahanan ekonomi negara-negara Asia, termasuk Indonesia saat ini dalam menghadapi krisis telah jauh lebih baik. Hal itu tercermin pada semakin kuatnya neraca pembayaran, meningkatnya cadangan devisa, dan berkurangnya hutang luar negeri. Selain itu, perkembangan pasar keuangan yang membaik (financial deepening) diharapkan mampu mengurangi risiko terjadinya krisis. Meski ketahanan ekonomi negara-negara Asia membaik, namun pentingnya menjaga stabilitas dalam menghadapi gejolak global saat ini. Gejolak yang muncul akibat meningkatnya harga-harga komoditas, makanan, maupun krisis keuangan di Amerika Serikat akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dalam beberapa waktu ke depan, termasuk Asia. Sementara itu, tingginya tekanan inflasi sendiri termasuk di Indonesia yang semula berasal dari melonjaknya harga komoditas internasional dan harga minyak, juga telah terefleksi pada meningkatnya inflasi inti di beberapa negara. Menghadapi tekanan tersebut, bank sentral Indonesia perlu secara bijak menggunakan pilihan dan instrumen kebijakan moneter yang ada dengan tetap memerhatikan keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas sistem keuangan. Kebijakan moneter dengan mengunakan suku bunga maupun dengan memperkuat nilai tukar ditempuh oleh beberapa bank sentral dalam menghadapi tekanan inflasi. Namun pilihan kebijakan tersebut akan sangat ditentukan oleh kondisi dan struktur keuangan maupun perekonomian suatu negara. "Karenanya, menghadapi tantangan yang sama tersebut, upaya kerja sama dan saling tukar pengalaman antar otoritas moneter berbagai negara dalam menjalankan kebijakan moneter menjadi sangat penting. Dalam Sidang Bank Internasional Sattlement ini dihadiri oleh perwakilan dari 19 Bank Sentral atau otoritas moneter dari Asia Pasifik, Australia, New Zealand, Eropa, dan Amerika Latin. BIS adalah organisasi internasional bank sentral seluruh dunia, yang mendorong kerjasama keuangan dan moneter diantara bank sentral serta berlaku sebagai bank untuk bank sentral-bank sentral di dunia. Sementera itu Bank Indonesia, sejak tanggal 5 Juni 2008 memutuskan untuk menaikan BI Rate sebesar 25 bps dari 8,25 % menjadi 8,50 %.
Kenaikan BI Rate ini ditetapkan setelah mencermati perkembangan terkini baik perekonomian global maupun domestik. Masih tingginya harga komoditas energi dan bahan pangan dunia serta dampak kenaikan harga BBM memberikan tekanan pada inflasi di tahun 2008. Bank Indonesia juga melihat bahwa tren peningkatan permintaan domestik turut memberikan tekanan pada inflasi inti. Perkembangan ini mendasari pertimbangan Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate pada bulan ini. Inflasi pada tahun 2008 kemungkinan akan meningkat pada kisaran 11,5-12,5% . Namun memperkirakan bahwa dengan berbagai kebijakan yang telah dan akan dilakukan, baik oleh Bank Indonesia maupun Pemerintah, inflasi akan kembali mengarah ke satu digit di tahun 2009 pada kisaran 6,5%±1%.

Bank Indonesia akan memfokuskan pada upaya meredam dampak tidak langsung dari kenaikan harga BBM dan pangan. Untuk itu Indonesia akan memanfaatkan secara optimal seluruh piranti moneter yang ada, baik melalui BI Rate, pengendalian volatilitas nilai tukar, penyerapan ekses likuiditas, optimalisasi Operasi Pasar Terbuka (OPT), maupun kebijakan-kebijakan lainnya. Dalam rangka optimalisasi pengendalian Operasi Pasar Terbuka , maka terhitung sejak tanggal 9 Juni 2008, Bank Indonesia akan melakukan perubahan sasaran operasional dari suku bunga SBI 1 bulan menjadi suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Dengan perubahan tersebut, Indonesia akan menjaga pergerakan suku bunga PUAB O/N disekitar level BI Rate. Penerapan inflation targeting framework dalam rejim nilai tukar mengambang bebas akan tetap menjadi pegangan Bank Indonesia. Upaya menjaga volatilitas nilai tukar merupakan unsur penting dari kebijakan tersebut dalam menurunkan tekanan inflasi. Ke depan, Indonesia melihat ruang bagi apresiasi rupiah, sejalan dengan dukungan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Inflasi IHK Mei 2008 secara bulanan berada jauh di atas pola historisnya dan meningkat menjadi 1,41% dari 0,57% di bulan sebelumnya. Sementara itu, secara tahunan, inflasi Mei 2008 tercatat sebesar 10,38% atau meningkat signifikan dibanding inflasi tahunan bulan sebelumnya (8,96%). Dengan perkembangan tersebut, inflasi year-to-date sampai dengan bulan Mei 2008 telah mencapai 5,47%. Kenaikan harga BBM bersubsidi di akhir bulan memberi dampak yang signifikan pada peningkatan laju inflasi Mei 2008. Aksi menaikkan harga berbagai komoditas menjelang kenaikan harga BBM berkontribusi terhadap tingginya inflasi Mei 2008. Mengingat bahwa dampak kenaikan BBM diperkirakan belum sepenuhnya terefleksi pada inflasi di bulan Mei 2008 maka tekanan inflasi akibat kenaikan harga BBM diperkirakan masih akan berlanjut kembali di bulan-bulan selanjutnya. Meski dihadapkan pada tekanan inflasi yang tinggi, namun perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2008 yang tumbuh cukup tinggi sebesar 6,3%. Angka pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya investasi non bangunan. Di sisi lain, kenaikan harga beberapa komoditas pertanian dan barang tambang di pasar internasional memberikan sumbangan pada meningkatnya ekspor. Kenaikan harga tersebut didukung pula oleh permintaan yang masih tinggi dari negara-negara emerging market. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diprakirakan mencatat kinerja yang baik terutama disumbang oleh neraca transaksi berjalan. Surplus transaksi berjalan triwulan II-2008 diperkirakan tetap tinggi mencapai USD 2,6 miliar atau 2,3% dari PDB. Untuk keseluruhan tahun 2008,diprakirakan Neraca Pembayaran Indonesia berpotensi lebih baik dari perkiraan semula. Faktor tingginya harga komoditas internasional masih mendukung kinerja ekspor. Masih kuatnya kinerja NPI mengindikasikan bahwa perekonomian kita memiliki ketahanan dan selanjutnya akan berdampak positif terhadap kestabilan nilai tukar rupiah. Cadangan devisa sampai dengan akhir Mei 2008, tercatat masih tinggi mencapai USD 57,5 miliar. Sementara nilai tukar rupiah selama bulan mei ini relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Industri perbankan secara umum masih menunjukkan kinerja dan ketahanan yang baik. Pelaksanaan fungsi intermediasi yang terus meningkat sebagian besar didanai dari dana Pihak Ketiga (DPK). Kredit perbankan April 2008 naik Rp 22,9 triliun (2,1%) dari Rp.1.080,1 triliun menjadi Rp.1.103,1 triliun. Secara year-on-year (April 2008 -April 2007), kredit meningkat Rp.247,7 triliun atau sekitar 29%. Sekitar 71% dari total kredit ini dialokasikan kepada kredit modal kerja dan investasi. DPK pada periode yang sama naik 1,1% dari Rp 1.466,2 triliun (Maret 2008) menjadi Rp 1.481,8 triliun (April 2008). Kenaikan kredit yang lebih besar dari kenaikan DPK pada bulan ini menyebabkan rasio LDR perbankan naik dari 73,7% (Maret 2008) dan kembali mencapai level tertinggi 74,4% pada April 2008. Sementara rasio non performing loans (NPL) perbankan baik gross maupun net naik sedikit, dari 4,33% menjadi 4,39%, dan dari 1,78% menjadi 1,83%. Ke depan, Indonesia tetap melaksanakan kebijakan moneter secara konsisten dan terukur untuk mengamankan arah perkembangan inflasi sebagaimana tersebut di atas. Untuk itu Penelitian ini dilakukan dengan judul Analisa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia.
B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah Tingkat BI rate yang ditetapkan Bank Indonesia berpengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi dalam perekonomian Indonesia.
2. Apakah tingkat pengangguran berpengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
3. Apakah Jumlah Uang beredar M1 berpengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
4. Apakah Jumlah Uang Beredar M2 berpengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
5. Apakah Pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
C. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitiansebagai berikut :
1. Untuk menganalisa pengaruh Tingkat BI rate yang ditetapkan Bank Indonesia berpengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi dalam perekonomian Indonesia.
2. Untuk menganalisa pengaruh tingkat pengangguran terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
3. Untuk menganalisa pengaruh Jumlah Uang beredar M1 terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
4. Untuk menganalisa pengaruh Jumlah Uang Beredar M2 terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
5. Untuk menganalisa Pengeluaran pemerintah terhadap tingkat inflasi di Indonesia.



D. Kegunaan dan Signifikansi Penelitian

Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat kepada :
1. Pemerintah Indonesia tentang upaya pengendalian tingkat inflasi di Indonesia.
2. Pengusaha Indonesia tentang kondisi perekonomian Indonesia, sehingga dapat melakukan kegiatan usaha bagi pengembangan perekonomian kedepan.
3. Investor tentang kondisi perekonomian Indonesia, sehingga dapat melakukan investasi di daerah ini.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mencakup perkembangan perekonomian Indonesia terkait dengan perkembangan tingkat inflasi, dan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia. Tingkat inflasi yang diteliti meliputi perkembangan inflasi selama 20 bulan terakhir.


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Pandangan Klasik tentang Perekonomian

Pandangan kaum klasik menyatakan bahwa tingkat output dan harga keseimbangan hanya bisa dicapai kalau perekonomian berada dalam kesempatan kerja penuh (full employment)., dan hal itu bisa dicapai melalui bekerjanya mekanisme pasar secara bebas. Mekanisme pasar yang bekerja secara bebas tanpa campur tangan pemerintah, yang merupakan necessary condition bagi tercapainya keseimbangan dalam kondisi full employment. Menurut Kaum Klasik keseimbangan dalam kondisi full employment merupakan kondisi yang ideal atau normal dalam suatu perekonomian. Kenyakinan kaum klasik tersebut dilatarbelakangi oleh tiga hal yaitu :
1. Perekonomian bebas memiliki kekuatan self correction atau self adjusting atau self regulation yang dapat membawa perekonomian pada kondisi full emplopyment equilibriumi.
2. Hukum pasar J. B Say yang menyatakan bahwa Supply creates its own demand, penawaran akan penciptakan permintaan sendiri dan akan selalu berlaku dalam perekonomian secara keseluruhan. Oleh karena itu tidak akan pernah terjadi kelebihan produksi secara umum ( general overproduction or general glut). Hukum say merupakan salah satu prinsip penting dalam makroekonomi klasik.
3. Tingkat harga dan upah didalam perekonomian adalah cukup fleksibel artinya bahwa harga-harga barang dan upah tenaga kerja sewaktu-waktu dengan cepat dapat disesuaikan. Fleksibilitas tingkat harga dan upah menurut kaum klasik menjamin tercapainya keseimbangan dengan kesempatan kerja penuh didalam perekonomian.

Pada intinya model makroekonomi klasik memiliki beberapa implikasi penting antara lain :
1. Kesempatan kerja penuh selalu terwujud. Output dalam model ini berada dalam keadaan keseimbangan pada tingkat kesempatan kerja penuh. Jika harga terlalu tinggi bagi market clearing, maka akan terjadi kelebihan penawaran (excess supply), yang mendorong tingkat harga turun sampai pada tingkat harga keseimbangan dan pasar clears. Sebaliknya jika perekonomian terjadi kelebihan permintaan (excess demand), mak tingkat harga berada dibawah tingkat harga keseimbangan, dan hal itu akan mendoron tingkat harga naik sampai pada harga keseimbangan.
2. Pergeseran permintaan agregat hanya akan mempengaruhi tingkat harga tetapi tidak mempengaruhi tingkat output riel keseimbangan.
3. Penawaran merupakan faktor kunci dalam pertumbuhan ekonomi. Menurut kaum klasik stagnasi ekonomi yang terjadi merupakan akibat kegagalan atau ketidakmampuan didalam meningkatkan dan mengembangkan input-input dalam perekonomian. pertumbuhan ekonomi terjadi karena pergeseran didalam penawaran agregat.
4. Inflasi yang terjadi merupakan akibat ketidakmampuan bank sentral dalam mengendalian tingkat inflasi dalam perekonomian. inflasi dalam perekonomian timbul sebagai akibat dari kegagalan pemerintah atau bank sentral untuk mengendalikan laju pertumbuhan jumlah uang beredar.

B. Pandangan Keynes Perekonomian

Pandangan yang disampaikan kaum klasik mendapat tanggapan kristis dari John Maynard Keynes. Keynes dalam bukunya The general theory of Employment, Interest, and money mengemukakan teori alternative yang mencoba menjelaskan sebab-sebab terjadinya the great depression dalam perekonomian dunia tahun 1930. Menurut Keynes perekonomian pada dasarnya tidak stabil dan penuh dengan ketidakpastian. Kondisi yang ideal dalam perekonomian atau normal state of economiy adalah keseimbangan dibawah kesempatan kerja penuh atau less than full employment equilibrium. Tingkat output keseimbangan menurut Keynes tergantung pada permintaan agregat atau Agregat demand. Keynes mengatakan tidak terdapat kecenderungan secara alamiah, atau no natural tendency bagi perekonomian untuk bergerak kearah keseimbangan dengan kesempatan kerja penuh. Untuk Keynes menunjuk beberapa kelemahan (weakness) dari pendangan klasik yaitu :
1. Penurunan dari tingkat bunga tidak akan secara otomatis mendorong investasi business secara memadai untuk mewujudkan kesempatan kerja penuh. Menurut Keynes rencana investasi selain ditentukan oleh tingkat bunga juga oleh ekspektasi mengenai masa yang akan datang.
2. Penurunan upah tidak memadai sebagai mekanisme koreksi terhadap masalah pengangguran yang ada. Hal itu karena penurunan upah nominal akan ditentang keras oleh para buruh, yang memiliki posisi cukup kuat dengan serikat buruhnya.
3. Dalam pandangan klasik uang dianggap netral dalam arti tidak mempunyai pengaruh terhadap sector riel seperti output dan kesempatan kerja. Sedangkan Keynes berpendapat uang merupakan pengubah yang sangat penting dan menentukan, karena dapat mempengaruhi tingkat output dan kesempatan kerja dalam perekonomian.

C. Inflasi dan Pengangguran

Inflasi adalah sebuah gejala dimana tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus menerus. Menurut Venieris dan Sebold (1978) mendefinisikan inflasi sebagai “a sustained tendency for general level of prices to rises over time.” Atau suatu kecenderungan meningkatnya tingkat harga umum secara terus menerus sepanjang waktu. Berdasarkan definisi tersebut kenaikan tingkat harga umum yang terjadi sekali waktu saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi. Terkait dengan inflasi ada 3 hal yang perlu dipahami yaitu inflasi itu sendiri, tingkat inflasi dan indeks harga. Inflasi itu sendiri pada dasarnya tingkat perubahan harga. Sedangkan tingkat inflasi adalah akumulasi dari inflasi-inflasi terdahulu atau persentase perubahan didalam tingkat harga. Tingkat inflasi dapat dijelaskan dengan formula :

Pt – Pt-1
π = -------------- 2.1
Pt-1

Dimana π adalah tingkat inflasi, Pt adalah tingkat harga pada tahun t (tahun sekarang) dan Pt-1 (tahun sebelumnya). Maka tingkat harga sekarang atau Pt dapat ditulis sebagai berikut :
Pt = Pt-1 + π (Pt-1). 2.2Adapun Indeks harga mengukur biaya dari sekelompok barang tertentu sebagai persentase dari kelompok barang yang sama pada periode dasar. Secara umum dikenal 3 indeks harga yaitu
A. Pandangan Kaum Moneteris dan Klasik

Teori inflasi dari kaum klasik dapat dianalisa dalam kerangka teori kuantitas uang dengan menggunakan persamaan pertukaran (equatation of exchange) yaitu
MV = PV 2.3
Persamaan pertukaran tersebut dapat ditulis kembali dimana masing-masing pengubah dari persamaan tersebut dinyatakan dalam bentuk persentase perubahan sepanjang waktu. Persamaan berubah menjadi
Ms V P Y
-------- + ------ = ------- + -------- 2.4
Ms V P Y
Dengan menempatkan tingkat inflasi disebelah kiri, maka persamaan berubah menjadi :
P Ms Y V
-------- + ------ = ------- + -------- 2.5
P Ms Y V

Dimana P/P adalah tingkat inflasi. Ms /Ms adalah pertumbuhan jumlah uang beredar. V /V adalah persentase perubahan didalam kecepatan perputaran uang. Y/Y adalah laju pertumbuhan output.
Persamaan tersebut digunakan untum mengetahui sumber inflasi, dimana inflasi disebabkan oleh pertumbuhan jumlah uang beredar, pertumbuhan output dan perubahan didalam kecepatan perputaran uang. Kaum klasik mengasumsikan kecepatan perputaran uang adalah konstan. Ini berarti V /V = 0. Maka persamaan diatas berubah menjadi :
P Ms Y
-------- = ------ - -------- 2.6
P Ms Y

Persamaan ini menyatakan bahwa tingkat inflasi sama dengan pertumbuhan jumlah uang beredar dikurangi pertumbuhan output. Kaum klasik mengasumsikan bahwa perekonomian berada dalam tingkat full employment yang berarti Y dalam persamaan pertukaran adalah tetap. Selain itu kaum klasik juga mengasumsikan variabel V adalah konstan. Dengan demikian perubahan dalam jumlah uang beredar akan menyebabkan perubahan proporsional dalam variabel tingkat harga (P). oleh karena itu penyebab utama timbulnya inflasi adalah jumlah uang beredar. Dengan kata lain kaum klasik dan kaum moneteris beranggapan bahwa inflasi adalah fenomena moneter.
B. Pandangan Keynes tentang Inflasi

Keynes mengatakan kecepatan perputaran uang (V) merupakan sesuatu yang bersifat dapat berubah – ubah (variable). Hal ini berbeda dengan kaum klasik dan moneteris yang mengatakan V adalah konstan atau tetap. Oleh karena V dapat berubah – ubah, maka apabila terjadi kenaikan jumlah uang yang beredar (M2) tidak akan menyebabkan perubahan didalam tingkat harga (P). dengan perkataan lain,tingkat harga akan tetap. Penekanan Keynes pada variabilitas output dan jangka pendek (shortrun) juga memberi kontribusi terhadap pandangan bahwa inflasi bukanlah murni sebagai fenomena moneter. Berbeda dengan kaum klasik yang mengasumsikan perekonomian selalu dalam kondisi kesempatan kerja penuh, Keynes sebaliknya mengatakan bahwa pengganguran dapat saja terjadi untuk suatu jangka waktu yang panjang atau bahkan untuk jangka yang tidak terbatas. Dengan adanya pengganguran, maka suatu kenaikan didalam jumlah uang beredar (M2) ( kecuali dalam kasus ekstrim) akam menyebabkan, baik tingkat harga maupun tingkat output mengalami kenaikan. Dengan kenaikan didalam output tersebut, kenaikan di dalam tingkat harga akan menjadi lebih kecil daripada kenaikan di dalam jumlah uang beredar (tidak proporsional), sekalipun kecepatan perputaran uang beredar itu konstan.
Didalam model Keynesian, jumlah uang beredar (Ms) hanyalah salah satu ( bukan satu-satunya ) faktor penentu tingkat harga. Namun didalam jangka pendek, ada banyak faktor lain menurut Keynesian yang mempengaruhi tingkat harga, seperti pengeluaran konsumsi rumah tangga (C), pengeluaran investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), dan pajak (T). Seperti halnya dengan kaum klasik dan moneteris, para ahli ekonomi Keynesian kotemporer (contemporary Keynesian) percaya bahwa inflasi merupakan fenomena moneter dan sebagai akibatnya, mereka menetapkan pengurangan laju pertumbuhan jumlah uang beredar sebagi salah satu cara untuk mengurangi tingkat inflasi. Tetapi walaupun demikian, menyangkut sejumlah isu yang berkaitan dengan inflasi, seperti kaitan antar tingkat inflasi dan pengangguran misalnya, Keynesians dan moneteris memiliki pandangan yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Analisis Keynesian menunjukkan bahwa kenaikan jumlah unga beredar yang terus-menerus memiliki pengaruh yang sama, baik atas kurva permintaan agregat (AD) maupun kurva penawaran agregat (AS) yaitu kurva permintaan agregat akan bergeser kekanan dan kurva penawaran agregat akan bergeser kekiri, seperti ditunjukkan dalam gambar 2.1. kesimpulanya adalah sama dengan kesimpulan yang dikemukakan kaum moneteris yaitu bahwa pertumbuhan jumlah uang beredar yang pesat akan menyebabkan tingkat harga mengalami kenaikan secara terus menerus dengan laju yang tinggi, yang berarti menciptakan inflasi

A. Hipotesa Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah serta tinjauan teori, maka hipotesa dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Tingkat BI rate berpengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Indonesia
2. Tingkat Pengangguran berpengaruh negatif terhafap tingkat inflasi di Indonesia.
3. Jumlah uang beredar M1 berpengaruh negatif terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
4. Jumlah uang beredar M2 berpengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Indonesia.
5. Pengeluaran Pemerintah berpengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Indonesia.


















BAB III.
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori yang menjelaskan pengaruh variabel independent terhadap pengaruh variabel dependent, dengan menggunakan metode analisa regresi. Penelitian ini berlokasi di Indonesia karena untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia. Penelitian ini membutuhkan waktu selama 4 bulan,
  1. B. Teknik Pengumpulan Data

    Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder secara runtun waktu (time series) yakni data yang berbentuk laporan dari Bank Indonesia, dan Badan Pusat Statistik yang diperoleh melalui Web Site di Internet. Data runtun waktu adalah data 20 bulan terakhir mulai Oktober 2006 s/d Mei 2008.

    C. Analisa Data

    Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan analisa regresi, untuk melihat pengaruh variabel independent terhadap dependent. Variabel dependent adalah Tingkat Inflasi di Indonesia, yang diperoleh berdasarkan data runtun waktu selama 20 bulan terakhir. Sedangkan variabel independent terdiri atas tingkat bunga BI rate, tingkat pengangguran, peredaran uang beredar baik M1 maupun M2, dan pengeluaran pemerintah. Formula yang dijadikan metode analisa adalah :



    P = f ( BI, Un, M1, M2, G )
    Formula dalam bentuk logaritma adalah :
    Log P = f ( Log BI, Log Un, Log M1, Log M2, Log G)
    Dimana
    Log P = Tingkat inflasi
    Log BI = BI Rate
    Log Un. = Pengangguran
    Loh M1 = Jumlah uang beredar untuk transaksi
    Log M2 = Jumlah uang beredar untuk Spekulasi
    Log G = Pengeluaran pemerintah

    Formula Fungsi regresi adalah

    Log P = 0 + 1 Log BI + 2 Log Un + 3 Log M1+ 4 Log M2 + 5 Log G




    BAB IV
    GAMBARAN UMUMPEREKONOMIAN INDONESIA

    A. Kondisi Perekonomian dan Inflasi

    Gross Domestik Product (GDP) Indonesia tahun 2007 sekitar US$ 408 milyar, dengan pendatan perkapita US $ 4.616. Sektor jasa memberikan konstribusi terbesar 45.3% dari GDP. Sektor industry 40.7%, pertanian 14.0%. tetapi sector petnaian mempekerjaan tenaga kerja terbesat 44.3% dari 95 juta angkatan kerja, sector jasa 36.9% dan industri 18.8%. Sedangkan ekspor utama Indonesia ke Jepang 22,3 %, Amrtika 13,9 %, Singapura 8,9 %. Sedangkan impor Indonesia dari Jepang 18,0 %, China 16,1 %, Singapura 12,8 %. Dengan demikian Indonesia mengalami surplus perdagangan dari penerimaan export US$ 83,64 milyar. Sedangkan pengeluaran untuk impor US $ 62.02 milyar. Perekonomian Indonesia sedang mengalami pemulihan setelah dilanda krisis pada pertengahan 1997 hingga 1998. Beberapa indikator makroekonomi meliputi pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat suku bunga, nilai kurs, dan indeks harga saham cenderung terus membaik atau stabil. Kondisi perekonomian Indonesia terkait dengan tingkat inflasi. Tingkat inflasi sangat menentukan perkembangan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Pengendalian inflasi melalui kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal , dilakukan dengan hati-hati . Hal itu mengingat pemerintah kembali menaikan harga BBM dalam negeri sebesar 28,7. Kenikan harga BBM akibat tingginya harga minyak dipasaran internasional yang secara langsung mempengaruhi kondisi APBN Indonesia tahun 2008. Akibat kenaikan harga BBM telah mendorong naiknya harga barang kebutuhan masyarakat dalam negeri. Tingkt inflasi di Indonesia dari bulan Oktober 2006 sampai Mei 2008Oktober 2006
    November 2006
    Desember 2006
    Januari 2007
    Pebruari 2007
    Maret 2007
    April 2007
    Mei 2007
    Juni 2007
    Juli 2007
    Agustus 2007
    September 2007
    Oktober 2007
    November 2007
    Desember 2007
    Januari 2008
    Pebruari 2008
    Maret 2008
    April 2008
    Mei 2008
6,29
5,27
6,60
6,26
6,30
6,52
6,29
6,01
5,77
6,06
6,51
6,95
6,88
6,71
6,59
7,36
7,40
8,17
8,96
10,38
Sumber : Situs BI. Internet





Tabel 4.1 menggambarkan bahwa tingkat inflasi di Indonesia dari bulan Oktober 2006 sampai Mei 2008 memberikan trend yang meningkat kalau pada bulan oktober 2006 tingkat inflasi cukup terkendali pada tingkat 6,29 %. Namun pada bulan mei 2008 pasca kenaikan BBM inflasi meningkat menjadi 10,38 %. Hal ini menunjukkan Indonesia perlu memberikan perhatian penuh terhadap kondisi makroekonomi, terutama terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat inflasi.
Tingkat inflasi Indonesia bila dibangdingkan dengan beberapa Negara di dunia menunjukkan tingkat inflasi di Indonesia masih cukup tinggi, sehingga perlu kerja keras dari pemerintah untuk menurunkan tingkat inflasi pada tingkat yang relative stabil. Tngfkat Inflasi di Amerika, Jepang, Korea Selatan, singapura dan Malaysia ternyata cukup rendah dalam peridoe oktober 2006 sampai dengan Mei 2008. Tingkat inflasi di Amerika dalam peride yang sama mencapai tingkat terendah 2,7 % dan tertinggi 4,33 %. Sedangkan Jepang , tingkat inflasi terendah -02 %, dan tertinggi 0,9, yang berarti masih berada dibawah 1 %. Sementara tiga negara di Asia yaitu koreaSelatan inflasi terendah 2,1 dan tertinggi 3,7% yang berarti berada dibawah 5 %. Singapura mempunyai tingkat inflasi terendah 0,4 % dan tertinggi 4,4 %. Malaysia dengan tingkat inflasi terendah 1,5 % dan tertinggi 3,9 % yang ternyata juga berada dibawah 5 %. Dari gambaran diatas tampaknya beberapa Negara didunia memiliki tingkat inflasi yang relative stabil dibanding Indonesia. Tingkat inflasi beberapa Negara dapat dilihat pada table 4.2.













Tabel 4.2
Tingkat Inflasi 4 Negera di Dunia


NO

Bulan/Tahun
Amerika
(%)
Jepang
(%)
Korea Selatan (%)
Singapura
(%)
Malaysia
(%)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Oktober 2006
November 2006
Desember 2006
Januari 2007
Pebruari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Pebruari 2008
Maret 2008
April 2008
Mei 2008
3,4
4,33
3,0
2,8
2,8
2,8
2,8
2,8
2,7
2,6
2,7
2,8
2,9
2,8
4,1
4,0
4,2
4,2
4,3
4,0
1,0
0,6
0,3
-0,1
-0,1
-0,1
-0,2
-0,2
-0,2
-0,2
-0,2
0,7
0,8
0,9
0,7
0,6
0,5
0,5
0,4
0,3

2,6
2,7
2,1
2,2
2,2
2,2
2,5
2,5
2,5
2,3
2,3
2,3
3,6
3,7
3,6
3,5
3,6
3,7
3,7
3,5
1,41
0,4
0,8
0,8
0,7
0,7
1,3
1,3
1,3
2,7
2,7
2,7
4,4
4,3
4,2
4,0
4,1
4,2
4,0
4,0

3,9
3,3
3,1
3,0
2,9
1,5
1,7
1,6
1,4
1,7
1,8
1,8
2,1
2,5
3,6
3,5
3,3
3,2
3,1
3,0
Sumber : Situs BI. Internet

B. Tingkat Bunga BI rate

Untuk itu Indonesia membutuhkan Sistem pengendalian keuangan nasional dan makroekonomi yang kuat terhadap berbagai gangguan perekonomian. Caranya dengan meneliti faktor-faktor yang dapat menganggu stabilitas itu sendiri. Ketidakstabilan sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam penyebab dan gejolak. Hal ini umumnya merupakan kombinasi antara kegagalan pasar, baik karena faktor struktural maupun perilaku. Kegagalan pasar itu sendiri dapat bersumber dari eksternal (internasional) dan internal (domestik). Sistem keuangan secara umum terdiri dari pasar, lembaga dan infrastruktur. Risiko yang sering menyertai kegiatan dalam sistem keuangan antara lain risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko operasional. Meningkatnya kecenderungan globalisasi sektor finansial yang didukung oleh perkembangan teknologi menyebabkan sistem keuangan menjadi semakin terintegrasi tanpa jeda waktu dan batas wilayah. Selain itu, inovasi produk keuangan semakin dinamis dan beragam dengan kompleksitas yang semakin tinggi. Berbagai perkembangan tersebut selain dapat mengakibatkan sumber-sumber pemicu ketidakstabilan sistem keuangan meningkat dan semakin beragam, juga dapat mengakibatkan semakin sulitnya mengatasi ketidakstabilan tersebut. Identifikasi terhadap sumber ketidakstabilan sistem keuangan umumnya lebih bersifat forward looking (melihat kedepan). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi risiko yang akan timbul serta akan mempengaruhi kondisi sistem keuangan mendatang. Atas dasar hasil identifikasi tersebut selanjutnya dilakukan analisis sampai seberapa jauh risiko berpotensi menjadi semakin membahayakan, meluas dan bersifat sistemik sehingga mampu melumpuhkan perekonomian.



Stabilitas kondisi keuangan Indonesia juga ditentukan oleh kebijakan bank Indonesia untuk mengendalian makro ekonomi melalui penetapan tingkat bunga BI rate. Hal itu sangat penting sehingga Bank Indonesia dapat kondisi makro ekonomim melalui kebijakan BI rate. Kebijakan BI rate oleh Bank Indonesia pada tahun 2006 relatif cukup tinggi pada bulan November 2006 sebesar 10,75. Namun bulan berikutnya diturunkan menjadi 9,75. Pada tahun 2007 BI rate kembali diturunkan pada awal tahun 9,50 % dan pada Desember 2007 telah menjadi 8,0 %. Sedangkan pada bulan April 2008 BI menaikan BI rate menjadi 8,25 dan bulan mei 2008 BI rate kembali dinaikan 0,25 menjadi 8,50 mengantisipasi kenaikan harga BBM dalam negeri dan harga minyak dunia. Kebijakan Bank Indonesia dalam menetapkan BI rate dari bulan Oktober 2006 sampai Mei 2008 dapat dilihat pada table 4.3


Tabel 4.3
Tingkat BI Rate di Indonesia
Bulan Oktober 2006 s/d Mei 2008

NO
Bulan/Tahun
Tingkat BI Rate (%)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Oktober 2006
November 2006
Desember 2006
Januari 2007
Pebruari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Pebruari 2008
Maret 2008
April 2008
Mei 2008
10,25
10,75
9,75
9,50
9,25
9,00
9,00
8,75
8,50
8,25
8,25
8,25
8,25
8,25
8,00
8,00
8,00
8,00
8,25
8,50
Sumber : Situs BI Internet

Tabel 4.3. menggambarkan bahwa tingkat BI rate pada bulan oktober 2006 cukup tinggi yaitu 10, 25 %. Namun pada bulan desember tahun yang sama ditingkatkan menjadi 9 10.75 %. Pada awal tahun 1997 tingkat BI rate mulai diturunkan sedikit demi sedikit sesuai dengan perkembangan kondisi perekonomian Indonesia menjadi 9.75 %. BI rate terus diturunkan sampai dengan akhir tahun, yakni pada bulan desember 2007, tingkat BI rate tercatat 8,0 %. Akibat kondisi perekonomian dunia yang mengalami kelambanan, akibat tingginya harga minyak dunia dan melambungnya harga komoditas pangan internasional, menyebabkan Bank Indonesia kembali menaikan BI Rata mei 2008 BI rate tercatat 8,25 %.

C. Tingkat Pengangguran
Angkatan kerja di Indonesia pada Pebruari sampai mei 2008 mencapai 111,48 juta orang, bertambah 1,54 juta orang dibanding jumlah angkatan kerja Agustus sampai Desember 2007 sebesar 109,94 juta orang atau bertambah 3,35 juta orang dibanding Februari 2007 sebesar 108,13 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Pebruari-Mei 2008 mencapai 102,05 juta orang, bertambah 2,12 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan pada Agustus 2007 sebesar 99,93 juta orang, atau bertambah 4,47 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan Pebruari-Mei 2007 sebesar 97,58 juta orang. Jumlah penganggur pada Februari-Mei 2008 mengalami penurunan sebesar 584 ribu orang dibandingkan dengan keadaan Agustus 2007 yaitu dari 10,01 juta orang pada Agustus 2007 menjadi 9,43 juta orang pada Februari 2008, dan mengalami penurunan sebesar 1,12 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2007 sebesar 10,55 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2008 mencapai 8,46 persen, mengalami penurunan dibandingkan keadaan Agustus 2007 yang besarnya 9,11 persen, demikian juga terhadap keadaan Februari 2007 yang besarnya 9,75 persen. Situasi ketenagakerjaan pada bulan Februari 2008, hampir di seluruh sektor mengalami peningkatan jumlah pekerja jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2007. Sektor yang mengalami peningkatan jumlah pekerja tertinggi berturut-turut yaitu: sektor jasa kemasyarakatan naik 1,82 juta orang serta sektor perdagangan naik 1,26 juta orang. Dari sisi gender, partisipasi perempuan dalam lapangan kerja meningkat signifikan. Selama Februari 2007-Februari 2008, jumlah pekerja perempuan bertambah 3,26 juta orang dan laki-laki hanya bertambah 1,21 juta orang. Kenaikan pekerja perempuan terbesar terjadi di sektor perdagangan yaitu 1,51 juta orang dan sektor pertanian sebesar 740 ribu orang. Selama periode Pebruari- Mei 2007 sampai dengan Pebruari-Mei 2008 umumnya jumlah pengangguran mengalami penurunan, hanya di tujuh provinsi yang mengalami kenaikan yaitu: Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, Papua Barat , Yogyakarta dan GorontaloTingkat pengangguran di Indonesia periode Mei 2006 sampai dengan Mei 2008 dapat dilihat pada table 4.4.
Tabel 4.4
Tingkat Pengangguran di Indonesia
Oktober 2006 – Mei 2008

NO
Bulan/Tahun
Tingkat Pengangguran
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Oktober 2006
November 2006
Desember 2006
Januari 2007
Pebruari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Pebruari 2008
Maret 2008
April 2008
Mei 2008
10.251.351
11.108.693
10.932.000
10.547.917
10.845910
10.946.315
10.357.816
10.547.319
10.647.515
10.747.914
10.435.142
10.311.234
9.951.442
9.701.243
9..511.167
9.335.045
9.527.245
9.656.344
9.864.345
9.928.252
Sumber : Situs BI Internet

D. Jumlah Uang Beredar

Memasuki tahun 1980an perekonomian Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan berat yang mendorong pemerintah melakukan serangkaian langkah-langkah penyesuaian struktural berupa kebijakan deregulasi guna dapat mendorong kegiatan perekonomian kearah yang lebih baik. Pada tahun 1990an dampak berbegai langkah deregulasi mulai dirasakan. Tingkat partumbuhan cukup menggembirakan, tetapi pada tahun 1997, tiba-tiba saja krisis keuangan melanda perekonomian Indonesia. Krisis keuangan tersebut dikatakan sebagai awal jatuhnya perekonomian Indonesia. Krisis yang berlangsung cukup lama ini nyaris melumpuhkan perekonomian Indonesia. Sebelum krisis pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 7 %. Puncak krisis tahun 1998 menyebabkan pertumbuhan ekonomi terperangkap dan mengalami kontraksi minus 13 % dan tingkat inflasi meroket tajam mencapai 77,6 %.
Selain itu krisis juga merupakan awal dari munculnya berbagai tekanan terhadap Bank Indonesia dalam mengendalikan sektor Moneter di Indonesia. Krisis yang terjadi tidak terlepas dari rentetan krisis yang terjadi di Asia. Ketika itu nilai tukar mata uang beberapa Negara Asia merosot tajam, khususnya terhadap dollar Amerika. Akibatnya rupiah yang ketika itu memiliki posisi yang relatfi kuat , juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Disatu sisi banyak pinjaman dari valas, baik bank maupun perusahaan yang harus dibayar dengan sumber pendanaan dari business yang menghasilkan rupiah. hal ini menyebabkan pinjaman perusahaan melonjat beberapa kali lipat. Sebagai gambaran setelah krisis utang public dalam bentuk rupiah melonjat drastis mencapai sekitar Rp. 1.270.000 trilum atau sekitar 200 % dari PDB Tahun 2000. Dilain pihak bank-bank harus memenuhi kewajibannya kepada nasabah yang menarik dana dalam jumlah besar. Kondisi perekonomian Indonesia dapat dilihat pada table 4.5





Tabel 4.5
Indikator Makro Ekonomi
Sebelum dan Sesudah Krisis


Tahun
Inflasi
%
Pertumbuhan Ekonomi
(%)
Tingkat Pengangguran (%)
Nilai
Tukar
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
10,17
9,63
8,98
5,08
10,31
77.63
1,92
9,35
12,55
10,03
5,06
6.40
17,11
6,60
6,7
7,5
8,2
7,8
4,7
-13,1
0,8
4,9
3,8
4,4
4,7
5,1
5,6
5,5
2,8
4,4
7,2
4,9
4,7
5,5
6,4
6,1
8,1
9,1
9,5
9,9
11,2
10,3
2.110
2.200
2.308
2.383
4.650
8.025
7.100
9.595
10.400
8.940
8.465
9.290
9.830
9.032
Sumber : BI dan BPS

Tabel 3.5 memberikan gambaran bahwa sebelum kondisi perekonomian Indonesia cukup baik. Namun pada puncaknya krisis tahun 1998 inflasi terjadi pada puncak tertinggi yaitu 77,65 % . sedangkan tingkat pertumbuhan ekonomi – 13 %. Hal inilah yang menyebabkan kondisi perekonomi Indonesia sangat terpuruk. Namun setelah krisis mulai ada tanda-tanda perbaikan dalam perekonomian nasional. Namun dengan melambungnya harga minyak dunia dan tingginya harga pangan dunia telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Untuk itu pemerintah telah menaikan harga BBM domestik sebesar 28,7 %. Kebijakan ini ditempuh untuk memperkuat struktur ekonomi Indonesia. Kalau dilihat dari angka-angka moneter sebelum krisis, selama satu decade sebelum krisis terjadi perkembangan menarik pada uang beredar. Uang beredar (M!) tampak cenderung meningkat pada tahun 1997 yang mencapai Rp. 10,4 trilum. Lonjatan paling besar dalam bentuk uang kuasi yang mencapai Rp. 51,7 trilium pada tahun 1997. Ini berarti terjadi kenaikan hamper 10 kali lipat. Lonjatan sangat drastis juga terjadi pada M2. Jika pada tahun 1988/1989 tercatat hanya Rp. 8,5 trilium, pada tahun 1997/1998 meningkat mencapai puncak tertinggi Rp. 62,1 trilium. Belum lagi tagihan kepada bank dan lembaga perusahaan swasta dan perorangan juga melonjat Rp,11,9 trilum, meningkat menjadi Rp. 62,8 trilum pada tahun 1997-1998. Indikator –indikator tersebut sedikit banyak memberikan gambaran tentang krisis yang terjadi di Indonesia. Kondisi krisis yang panjang telah mendorong masyarakat untuk melakukan pembelian valas secara besar-besaran, baik untuk keperluan membayar utang divalas atau semata-mata untuk keperluan aksi ambil untung. Disamping itu Bank-bank juga diselamatkan oleh pemerintah dengan memberikan bantuan liquiditas melalui bank Indonesia (BLBI), kebijakan tersebut secara berangsur-angsur telah mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi perbankan di Indonesia. Hal itu karena bank-bank mempunyai peranan yang cukup besar dalam menciptakan uang beredar dalam masyrakat. Jumlah uang beredar dalam perekonomian Indonesia dalam tiga tahun terakhir relative cukup baik, untuk mendorong perekonomian, namun akibat krisis harga minyak dan krisis harga pangan internasional telah memberikan pengaruh yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia. Jumlah uang beredar M1 adalaH untuk keperluan transaksi didalam perekonomian. Sedangkan M2 untuk spekulasi yang biasanya terjadi di Bursa Valas. Kondisi uang beredar di Indonesia untuk M1 dan M2 dari Oktober 2006 sampai Mei 2008 dapat dilihat pada Tabel 4.6






Tabel 4.6
Jumlah Uang Beredar
Periode Oktober 2006 – Mei 2008

NO
Bulan/Tahun
M1
(Milyar Rp)
M2
(Milyar Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Oktober 2006
November 2006
Desember 2006
Januari 2007
Pebruari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Pebruari 2008
Maret 2008
April 2008
Mei 2008
346.414
342.645
361.073
344.840
346.573
341.833
351.259
352.629
381.379
397.823
402.035
411.281
414.996
424.435
460.842
420.298
411.327
419.746
427.028
431.073
1.325.658
1.338.555
1.382.074
1.363.907
1.366.820
1.375.947
1.383.577
1.393.097
1.451.974
1.472.952
1.487.541
1.512.756
1.530.145
1.556.200
1.643.203
1.588.962
1.596.090
1.586.795
1.608.874
1.725.658
Sumber : Situs BI Internet

Tabel 4.6 memberikan gambaran bahwa dalam 20 bulan terakhir , jumlah uang beredar di Indonesia terus meningkat, sejalan dengan meningkatnya inflasi di Negara ini.

E. Pengeluaran pemerintah

Pengeluaran pemerintah merupakan bagian dari kebijakan fiscal terhadap tingkat pendapatan nasional. Bila pemerintah menerapkan kebijakan pemerintah yang ekspansif yaitu memalui peningkatan pengeluaran pemerintah (G). dengan adanya kebijakan fiscal yang ekspansif maka permintaan agregat akan naik, menyebabkan kurva agregat demand bergeser kekanan atas. Hal itu akan menyebabkan naiknya tingkat harga dan pendapatan nasional. Bila tingkat harga mengalami kenaikan secara terus menerus akan menyebabkan terjadinya inflasi. Pengeluaran pemerintah bulan Okrober 2006 sampai dengan Mei 2008 dapat dilihat pada table 4.7





















Tabel 4.7
Pengeluaran Pemerintah
Bulan Oktober 2006 s/d Mei 2008

NO
Bulan/Tahun
Pengeluaran pemerintah
(Milyar Rp.)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Oktober 2006
November 2006
Desember 2006
Januari 2007
Pebruari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Pebruari 2008
Maret 2008
April 2008
Mei 2008
6.827.084
6.873.857
7.817.535
6.888.421
6.916.322
7.748.090
7.522.277
7.953.751
7.850.888
7.965.752
7.899.302
7.517.136
8.081.294
7.866.786
8.388.065
8.903.540
9. 486.587
9.999.657
10.548.345
10.947.809
Sumber : Situs BI Internet

Table 4.7. menjelaskan bahwa pengeluaran pemerintah dari tahun ketahun mengalami peningkatan, namun kenaikan pengeluaran pemerintah tidak dilakukan secara drastis. Tetapi mengalami kenaikan secara bertahap sesuai dengan kondisi perekonomian bangsa Indonesia. Pada bulan oktober 2006 pengeluaran pemerintah tercatat Rp. 6.827.084 trilium. Jumlah pengeluaran pemerintah secara bertahap meningkat pada Desember 2007 telah menjadi Rp. 8,388.065 trilium. Sedangkan pada bulan Mei 2008 pengeluaran pemerintah meningkat menjadi Rp. 10.948.809 trilium.


























BAB V
Hasil Analisa


Untuk melihat pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia maka dilakukan analisa dengan menggunakan regresi. Persamaan regresi hasil analisa yang diperoleh adalah :
:
Log P = - 7,47 + 0,938 Log BI – 0,219 Log UN + 0,531 Log M1 – 0,208 Log M2
+ 1,05 Log G

Sedangkan hasil analisa regresi dapat dilihat pada table 5.1.

Tabel 5.1
Hasil Analisa Regresi
Faktor-Faktor Yang mempengaruhi
Inflasi di Indonesia

Variabel
Koefisien
ST. Dev
T. Stat
P
VIT
Constan
Log BI
Log Un
Log M1
Log M2
Log G
-7,473
0,9380
-0,2185
0,5309
-0,20803
1,0529
5,332
0,4034
0,5150
0,4138
0,08333
0,1690
-1,40
2,33 *
-0,42
1,28
-2,50 *
6,23 *
0,183
0,036
0,678
0,220
0,026
0,000

4,9
3,0
6,4
1,6
2,2
S=0,03005 R-sq = 85,6 % R-sq (adjust) = 80,4 %
F = 16,61 P = 0 DW 1,26 n = 20
Sumber :Lampiran 2
*. : Signifikan pada derajat kenyakinan 5 %


A. Pengaruh BI rate terhadap Inflasi

Dari persamaan tersebut di ketahui bahwa elastisitas BI rate terhadap tingkat Inflasi 0,938. Ini berarti bila BI Rate ditingkatkan oleh Bank Indonesia sebesar 1 % akan mendorong peningkatan inflasi 0,9 %. Dengan asumsi bahwa faktor lain tetap. Dengan demikian tingkat BI rate memberikan pengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Indonesia.. Jika BI rate naik, maka inflasi juga akan naik secara proporsional. Keeratan hubungan antara cukup tinggi dilihat dari koefisien determinasi R2 sebesar 85,6 %. Hal ini menunjukkan besarnya variasi pengaruh variabel bebas Tingkat BI rate terhadap inflasi di Indonesia. Sedangkan sisanya 14,4 % dipengaruhi oleh faktor lain. Sedangkan uji t menghasilkan nilai t = 2,33 yang ternyata lebih besar dari t table. Ini berarti tingkat bunga BI rate memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Sementara nilai DW 1,26 untuk menentukan ada tidaknya serial korelasi dengan analisa terhadap error. Bila dibandingkan dengan tabel DW maka hipotesa dapat diterima. Dengan demikian model regresi cukup baik.
Oleh karena itu kebijakan pemerintah menaikan BI rate dari 8,25 menjadi 8,50 dalam bulan Mei 2008 justru akan mendorong kenaikan inflasi di Indonesia. Inflasi bulan mei 2008 yaitu 10,38 %. Bahkan tahun 2008 inflasi diperkirakan mencapai 11,5 sampai 12,5 %. Ini berarti untuk pertama kalinya pasca krisis ekonomi tingkat inflasi di Indonesia mencapai dua digit. Padahal selumnya pemerintah berkomitmen untuk tetap mempertahankan inflasi satu digit. Namun pemerintah nyakin bahwa dengan berbagai kebijakan akan dan sudah dilakukan dapat mengendalikan tingkat inflasi kembali pada satu digit pada tahun 2009 mendatang. Menurut Gubernur Bank Indonesia kenaikan BI rate menjadi 8,50 % saat ini setelah mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik akibat melambungnya harga minyak dunia dan harga komoditas pangan dipasaran internasioal, serta kebijakan pemerintah menaikan harga BBM 28,7 %.
Namun kebijakan BI menaikan BI rate oleh beberapa kalangan sangat diselesalkan. Hal ini akan mendorong inflasi dan dapat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia khususnya disektor riel, sehingga menyulitkan masyarakat kecil.


B. Pengaruh Unemployment terhadap Inflasi

Dari persamaan diatas diketahui bahwa elastisitas unemployment terhadap inflasi adalah - 0,219. Artinya bahwa jika tingkat pengangguran meningkat 1 % akan menyebabkan inflasi turun 0,2 %, dengan asumsi faktor lain tetap. Hal ini sejalan dengan kurva Philips bahwa terdapat trade of antara inflasi dan tingkat pengangguran di Indonesia. Dengan demikian tingkat pengangguran memberikan pengaruh negative terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Namun dalam uji t nilai t yang diperoleh adalah – 0,42. Hal ini menujukkan bahwa unemployment atau tingkat pengangguran tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai bahan analisa. Kendati demikian kondisi pengangguran di Indonesia perlu dicermati secara bijaksana, sehingga dalam kondisi perekonomian yang cukup sulit saat ini, pemerintah dapat menempuh berbagai kebijakan pembangunan yang dapat menciptakan lapangan kerja baru dalam mengatasi pengangguran. Kendati terdapat trade of antara unemployment dengan tingkat inflasi di Indonesia yang sejalan dengan kurva philis yang menunjukkan slop negative, namun bagi kaum Keynesian tidak percaya dengan adanya trade of antara unemployment dengan tingkat inflasi. Trade of hanya terjadi dalam jangka pendek (short run) sedangkan dalam jangka panjang dengan adanya kebijakan moneter yang ekspansif akan mempertahankan tingkat pengangguran dibawah tingkat pengangguran alamiah. Hal ini sejalan dengan hasil analisa yang menggunakan analisa jangka pendek karena menggunakan data runtun waktu selama 20 bulan terakhir, sehingga belum dapat dijadikan ukuran untuk jangka panjang. Trade of yang terjadi antara unemployment dan tingkat inflasi di Indonesia hanya dalam jangka pendek. Sedangkan dalam jangka panjang tampaknya akan sejalan dengan pandangan Kaum Keynesian.




C. Pengaruh Uang beredar M1 terhadap Inflasi

Dari persamaan regresi diatas diperoleh nilai M1 = 0,531 yang artinya kenaikan jumlah uang beredar sebesar 1 % akan mendorong naiknya tingkat inflasi 0,5 %. Dengan asumsi faktor lain tetap. Namun dalam uji t, nilai t yang diperoleh 1,28dan ternyata lebih kecil dari t table. Hal ini memperlihatkan bahwa jumlah uang beredar M1 yang merupakan uang beredar untuk kegiatan transaksi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai bahan analisis. Namun demikian kaum klasik beranggapan bahwa tingkat inflasi dipengaruhi oleh jumlah uang beredar, tingkat pertumbuhan output dan kecepatan dalam perputaran uang. Tingkat inflasi sama dengan pertumbuhan uang beredar dikurangi output yang dihasilkan. Hal ini juga sejalan dengan kaum moneteris yang menyatakan bahwa inflasi adalah fenomena moneter dengan mengasumsikan bahwa kecepatan perputaran uang adalah konstan. Namun Keynes berpandangan lain bahwa kecepatan perputaran uang beredar adalah selalu berubah-ubah. Sehingga jika terjadi perubahan dalam jumlah uang beredar akan menyebabkan perubahan dalam tingkat harga. Namun demikian menurut pandangan kaum Keynesian jumlah uang beredar hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat harga, namun dalam jangka pendek. Dengan demikian hasil analisis bahwa jumlah uang beredar M1 untuk keperluan transaksi, dalam jangka pendek tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kenaikan harga di Indonesia. Namun dalam jangka panjang, diperkirakan jumlah uang beredar M1 akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia, sesuai dengan pandangan kaum Keynesian. Hal ini sejalan dengan kelompok ekonomi struktural, yang lebih menyoroti masalah kelembagaan di Indonesia menyebabkan terjadinya kenaikan harga-harga, dibanding masalah jumlah uang beredar untuk keperluan transaksi. Oleh karena itu persoalan kelembagaan menjadi sangat penting dalam mengatasi persoalan inflasi di Indonesia. Dalam analisa ini masalah kelembagaan tidak dimasukan sebagai variabel yang dianalisa. Kendati demikian persoalan kelembagaan perlu mendapat perhatian oleh pemerintah dalam mengendalikan tingkat inflasi di Indonesia dalam jangka panjang.

D. Pengaruh Uang Beredar M2 terhadap Inflasi

Dari persamaan diatas menghasilkan nilai M2 untuk spekulasi adalah – 0,208 yang berarti bahwa jika jumlah uang beredar M2 ditingkat 1 % akan menurunkan inflasi sebesar 0,2 %, dengan asumsi faktor lain tetap. Ini berarti terdapat trade off antara jumlah uang beredar untuk keperluan spekulasi dengan tingkat inflasi di Indonesia. Sedangkan dari uji t menghasilkan nilai t adalah -2,50 dan ternyata lebih besar dari t table. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah uang beredar untuk keperluan spekulasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Kalau jumlah uang beredar M1 untuk keperluan transaksi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat inflasi. Sebaliknya M2 justru memberikan pengaruh yang signifikan. Hasil analisa ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek perekonomian di Indonesia termasuk tingkat inflasi dipengaruhi oleh M2. Untuk itu pemerintah Indonesia perlu berhati-hati dalam menetapkan kebijakan dalam menata perekonomian secara nasional, karena kondisi perekonomian dalam jangka pendek saat ini sangat dipengaruhi oleh spekulasi dipasar modal dan valas. Bila perekonomian Indonesia banyak ditentukan oleh faktor spekulasi, maka bukan tidak mungkin struktur ekonomi Indonesia akan lemah, karena sangat rentang terhadap spekulasi. Kendati tidak dilakukan analisis mengenai capital inflow, namun masuknya modal asing ke Indonesia sebagian besar dialokasikan untuk keperluan spekulasi dipasar bursa dan valas. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah uang beredar M2 untuk keperluan spekulasi dalam 20 bulan terakhir yang memberikan pengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Jika masalah ini dalam jangka panjang terus dibiarkan maka dikuatirkan akan mempengaruhi struktur ekonomi Indonesia. Oleh karena itu pemerintah sudah saatnya lebih memberikan perhatian serius terhadap jumlah uang beredar untuk keperluan spekulasi. Hal itu karena menurut kaum Ekspektasi Rasional yang juga memandang inflasi sebagai fenomena moneter, namun mereka percaya bahwa perubahan yang hanya bersifat antisipatif dan spekulatif didalam jumlah uang beredar akan membawa dampak terhadap naiknya harga.


E. Pengaruh Pengeluaran Pemerintah terhadap Inflasi

Dari persamaan regresi diperoleh nilai G adalah 1.05 yang bearti bahwa kenaikan pengeluaran pemerintah sebesar 1 % akan mendorong naiknya tingkat inflasi sebesar 1,05 %. Sesuai uji t diperoleh nilai t hitung adalah 6,23 dan ternyata lebih besar dari t tabel. Ini berarti bahwa pengeluaran pemerintah memberikan pengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Jika pemerintah menerapkan kebijakan fiscal yang ekspansif berupa peningkatan pengeluaran pemerintah (G) akan mendorong peningkatan permintaan agregat yang ditandai dengan pergeseran kurva permintaan agregat ke kanan atas, sehingga mendorong naiknya tingkat harga. Inflasi ini termsuk dalam demand pull inflation atau inflasi tarikan permintaan atau juga disebut inflasi sisi permintaan. Inflasi ini terjadi akibat kenaikan permintaan agregat yang lebih besar dibanding penawaran agregat. Akibatnya produksi barang-barang agregat berkurang , karena pemanfaatan sumber daya alam yang tidak maksimal. Inflasi terjadi juga karena kenaikan biaya produksi akibat kenaikan harga BBM, dibanding dengan produktivitas dan efisiensi. Hal ini menyebabkan tingkat produksi agregat lebih kecil dibanding dengan permintaan agregat, sehingga mendorong kenaikan harga, yang juga dipicu oleh kenaikan harga BBM.
Dari penjelasan ini dapat digambarkan bahwa perekonomian Indonesia saat ini, atau dalam jangka pendek ini lebih banyak dipengaruhi oleh permintaan agregat, sebagai akibat dari kebijakan fiskal pemerintah yang expansif dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah. Oleh karena itu pengeluaran pemerintah saat ini harus lebih dipioritaskan dalam meningkatkan produksi, sehingga dapat meningkatkan penawaran agregat dan dalam jangka panjang dapat menurunkan tingkat harga atau inflasi di Indonesia. Kebijakan ini sangat penting sehingga kenaikan inflasi tidak memberikan pengaruh yang lebih berat terhadap perekonomian Indonesia dan juga terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Dalam 20 bulan terakhir ini, ternyata peningkatan pengeluaran pemerintah (G) lebih diarahkan pada peningkatan permintaan agregat, bukan penawaran agregat.



BAB VI
Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan
1. Tingkat Bunga BI rate memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Jika Bank Indonesia menaikan BI rate sebesar 1 % akan mendorong naiknya tingkat inflasi sebesar 0,9 % dalam jangka pendek.
2. Unemployment atau tingkat pengangguran memberikan pengaruh negative terhadap inflasi di Indonesia, yang sejalan dengan kruva Philips yang berarti adanya trade off antara inflasi dan pengangguran di Indonesia. Tetapi pengaruh pengangguran terhadap tingkat inflasi tidak signifikan, sehingga tidak dapat dijadikan analisis.
3. Jumlah uang beredar untuk transaksi M1 memberikan pengaruh positif terhadap tingkat inflasi di Indonesia tetapi tidak signifikan, sehingga tidak dapat dilakukan analisis. Ini berarti tingkat inflasi yang terjadi dalam jangka pendek di Indonesia saat ini bukan disebabkan oleh jumlah beredar untuk transaksi M1.
4. Jumlah uang beredar untuk spekulasi M2 ternyata memberikan pengaruh negative dan signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Oleh karena itu kenaikan inflasi dalam jangka pendek saat ini, lebih disebabkan karena jumlah uang beredar untuk keperluan spekulasi M2 di pasar modal dan valas. Dengan demikian perekonomian Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh faktor spekulasi dipasar modal dan valas, bukan karena transaksi ekonomi.Pengeluaran Pemerintah (G) memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Bila peningkatan pengeluaran pemerintah sebesar 1
A. Saran-Saran

1. Pemerintah perlu berhati-hati dalam menaikan tingkat bunga BI rate, karena kenaikan BI rate akan memberikan pengaruh yang proporsional terhadap kenaikan inflasi di Indonesia. Kenaikan BI rate pada bulan mei 2008 dari 8,25 menjadi 8,50 perlu dievaluasi kembali, karena dikuatirkan dan meningkatkan inflasi diatas dua digit, sehingga dapat memperngaruhi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
2. Perekonomian Indonesia dan tingkat inflasi yang terjadi saat ini lebih banyak disebabkan karena faktor spekulasi atau jumlah uang beredar untuk spekulasi. Oleh karena itu pemerintah Indonesia perlu memperhatikan kondisi saat ini. Hal itu karena dalam jangka pendek ini faktor spekulasi memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam perkeonomian Indonesia. Kendati memberikan pengaruh negative, tetapi pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap kondisi saat ini, sehingga tidak mempengaruhi kondisi perekonomian dalam jangka panjang.
3. Kebijakan fiskal yang eskpansif, berupa peningkatan pengeluaran pemerintah (G) dalam jangka pendek ini, ternyata memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi melalui meningkatnya permintaan agregat. Oleh karena itu peningkatan pengeluaran pemerintah perlu lebih diarahkan pada peningkatan penawaran agregat, sehingga meningkatkan produksi, yang pada akhirnya dapat menurunkan tingkat inflasi dalam jangka panjang.










DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Brian Hillier, (1981) Macoreconomics, Model. Debate, and Development.

2. Richard T Froyen, Macroeconomics Theories and Policies. Univercity of
North Carolina at Chapel Hili, sixth edition, prentice Hali international Inc.

3. Muana Nanga, (2005) Makro Ekonomi, teori Masalah dan Kebijakan,
Devisi Bukuperguruan Tinggi, PT Raja Grafindo Persada,Jakarta .
4. Http://www, bps.go.id/sector/epi/ Statistik bank Indonesia

5. File://C:\Document and setting\Anugerah\my document down- load,\
belanja negara.

6. Http://www.bi.go.id/biweb/templates/Dynamics/Data.Statcat.ID.aspx/NR MODE=publish 6/12-2008













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar